Sabtu, 25 November 2017

contoh laporan evaporasi



LAPORAN PRAKTIKUM PENGUKURAN BESARNYA EVAPORASI DI WILAYAH UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Untuk memenuhi tugas Matakuliah Hidrologi yang dibimbing oleh:
Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si
Fatiya Rosyida, M.Pd

Disusun oleh:
Mochamad Rihski Abd.Fajar
Muhammad Muhlas Ardianto







UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
MARET
2017



A.    TOPIK PRAKTIKUM
Pengukuran besarnya evaporasi diwilayah Universitas Negeri Malang dengan pembagian lokasi praktikum atau titik yang menyebar.

B.     TUJUAN
Tujuan dari praktikum evaporasi ini adalah sebagi berikut:
1.      Menganalisis sebaran evaporasi di wilayah Universitas Negeri Malang
2.      Menganalisis perbedaan evaporasi air bersih dan air tercemar
3.      Menganalisis hubungan kondisi lingkungan dengan evaporasi

C.    DASAR TEORI
Evaporasi (penguapan) menurut para ahli adalah perubahan air menjadi uap air. Airyang ada di bumi bila terjadi proses evaporasi akan hilang ke atmosfer menjadi uap air.Evaporasi dapat terjadi dari permukaan air bebas seperti bejana berisi air, kolam,waduk, sungai ataupun laut. Proses evaporasi dapat terjadi pada benda yangmengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang basah, Suhardianto (1999) dalam artikel online. Sedangkan menurut(Lakitan, 1994) Evaporasi adalah salah satu komponen siklus hidrologi, yaitu peristiwa menguapnya air dari permukaan air, tanah,dan bentuk permukaan bukan dari vegetasi lainnya.Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari permukaan bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air Evaporasi juga dapat diartikan sebagai salah satu komponen siklus hidrologi, yaitu peristiwa menguapnya air dari sumber-sumber air yang ada baik dipermukaan tanah dan bentuk permukaan lainya yang bukan vegetasi.
Evaporasi merupakan bagian dari siklus hidrologi atau siklus air. Siklus hidrologi akan dimulai dari penguapan terlebih dahulu. Penguapan tersebut dapat berasal dari sumber air yang ada dibumi, seperti samudera, laut, danau, rawa, sungai, dan bendungan, dan diarea lain yang ada sumber airnya. Semua air tersebut akan berubah menjadi uap air karena adanya radiasi atau panas dari matahari. Evaporasi akan mengubah bentuk air menjadi gas. Karena wujudnya gas maka maka hal ini dimungkinkan bahwa gas tersebut dapat naik ketas karena terbawa oleh angin. Semakin banyak panas matahari yang diterima maka semakin banyak gas atau uap air yang terbawa ketas (atmosfer).
Dari pemaparan sebelumnya dapat diketahui bahwa evaporasi merupakan faktor yang penting dalam siklus hidrologi, evaporasi juga mempengaruhi debit sungai, besarnya kapasitas waduk, besarnya kapasitas bendungan, pompa untuk irigasi, dan penggunaan komsumtif tanaman. Laju evaporasi atau penguapan akan berubah-ubah menurut warna dan sifat pemantulan permukaan dan hal ini juga berbeda untuk permukaan yang langsung tersinari oleh matahari.

Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat evaporasi:
1.      Radiasi Matahari
Proses evaporasi terjadi di siang hari dan kerap kali juga malan hari. Perubahan eujud cair menjadi gas membutuhkan energi berupa panas. Sumber energi utama tersebur adalah matahari. Semakinkesempatan penyinaran panas oleh matahari didapatkan maka evaporasi akan semakin tinggi. Biasanya sinar matahari tidak langsung diterima dibawah karena awan yang menghalanginya.
2.      Angin.
Ketika air menguap ke atmosfir, maka lapisan batas antara tanah dengan udara menjadi jenuh dengan uap air, sehingga proses evaporasiberhenti. Agar proses evaporasi dapat terus berjalan, maka udara tersebut haruslah diganti dengan udara kering. Pergantian tersebut dapat dimungkinkan jika terjadi angin, jadi kecepatan angin memegang peranan dalam proses evaporasi.
3.      Kelembaban relatif.
Faktor lain yang mempengaruhi evaporasi adalah
kelembaban relatif udara. Jika kelembaban relatif ini naik, kemampuannya
untuk menyerap uap air akan berkurang sehingga laju evaporasinya akan
menurun. Penggantian lapisan udara pada batas tanah dan udara dengan
udara yang sama kelembaban relatifnya tidak akan menolong untuk
memperbesar laju evaporasi.
4.      Suhu/ temperatur.
 Seperti disebutkan di atas suatu input energi sangat diperlukan agar evaporasi berjalan terus. Jika suhu udara dan tanah cukup tinggi, proses evaporasi akan berjalan lebih cepat dibandingkan jika suhu udara dan tanah rendah, karena adanya energi panas tersedia. Karena kemampuan udara untuk menyerap uap air akan naik jika suhunya naik, maka suhu udara memiliki efek ganda terhadap besarnya evaporasi, sedangkan suhu tanah dan air mempunyai efek tunggal.

Air yang ada dibumi ini apabila mengalami proses evaporasi maka akan hilang menuju ke atmosfer menjadi uap air. Proses evaporasi dapat terjadi pada benda yang mengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang basah. Pada lahan yang basah, evaporasi mengakibatkan tanah menjadi kering dan dapat mempengaruhi tanaman yang tumbuh ditanah tersebut. Proses evaporasi sebenarnya terdiri dari dua peristiwa yang berkelanjutan, yaitu:
1.      Interface evaporation yaitu transformasi dari air menjadi uap air yang berada di permukaan air.
2.      Vertical Vaportransfer yaitu pemindahan udara yang kenyang uap air dariinterface ke atmosfer. Faktor – faktor yang mempengaruhi penguapan adalah kelembapan udara, tekanan udara, kecepatan angin, lama penyinaran matahari, temperatur air, luas permukaan air, kualitas air, topografi, dan iklim.


Besarnya nilai evaporasi dapat diperoleh baik dengan cara pengukuran langsung maupun secar empiris. Pengukuran langsung dilakukan dengan menggunakan alat atmometer, lysimeter, dan Evaporation Pan. Sedangkan perhitungan evaporasi secara empiris dengan menggunakan model/rumus yang ditemukan olehpara ahl hidrologi/meteorologi. Salah satu rumus empiris yang cukup populer dan sering digunakan adalah rumus Thornweite (Utaya, 2001:12).

D.    ALAT DAN BAHAN
1.      Bahan
·         Air Jernih (bersih).
·         Air tercemar (kotor).
2.      Alat
·         Panci Evaporasi (rantang) dengan diameter 15 cm
·         Botol air mineral bekas ukuran sedang (600 ml)
·         Gelas ukur tiruan sederhana
·         Alat tulis
·         Alat pengukur luas tempat (kayu dengan panjang 50 cm)

3.      Langkah Kerja
1.      Menentukan lokasi praktikum evaporasi. Lokasi diambil di Universitas Negeri Malang.
2.      Menyiapkan 2 buah rantang untuk mengukur besarnya  evaporasi.
3.      Menyiapakan 2 macam sampel air (air bersih dan air kotor) dan dimasukan kedalam dua buah rantang evaporasi. Masing-masing rantang menampung air setinggi 3 cm.
4.      Meletakan dua rantang untuk pengukuran evaporasi dengan sampel air tersebut di tempat yang ditetapkan, pada pukul 06:00 WIB dengan jarak antar panci yang berhimpitan.
5.      Setelah 11 jam tepatnya pukul 17:00 WIB, rantang diambil dan di identifikasi seperti Menghitung penyusustan ketinggian air pada kedua rantang tersebut.
6.      Setelah diketahui hasil penyusutanya maka akan dilanjutkan dengan pengolahan data.














4.       HASIL PRAKTIKUM



REKAPITULASI DATA HASIL PRAKTIKUM EVAPORASI








PEND.GEOGARFI OFF - K  2016





Tabel 1.1

















KELOMPOK
LOKASI
PENGUAPAN (mm)
KONDISI LINGKUNGAN

Air bersih
Air tercemar
Luas (m2)
Lantai
Jmlh Pohon
Kelembapan

1
Sawojajar
8,7
10,9
56
Semen
3
Terbuka

2
Jl. Terusan ambarawa
4,3
8,7
7,5
Tanah
0
Tertutup

3
Jl. Candi 24 MIS
6,5
9,3
26
Semen
1
Tertutup

4
Asrama putri
8,7
6,5
350
paving
0
Terbuka

5
Jl. Sumbersari gg. 5
8,7
6,5
24,3
Paving
2
Terbuka

6
Jln.Jombang gg. 1A
17,4
15,2
8,82
Paving
3
Semi

7
Asrama PGSD
6,5
4,3
24
Tanah
2
Terbuka

8
Gazebo FE
6,5
8,2
529,6
Paving
9
Semi

9
Telkom klojen
8,7
10,9
9,75
Paving
3
Semi

10
Jl. Jombang gg 1
19,6
17,4
14,4
Paving
1
Terbuka

11
Jl. Jombang gg 1A
21,8
15,2
10
Paving
3
Terbuka

12
Jln.candi 1 A
17,4
21,8
300
Paving
2
Semi

13
Lapangan voly
13,09
15,2
710
Tanah
0
Terbuka

14
Merjosari
6,5
4,3
10
Paving
1
Terbuka  

15
Jl. Bendungan sutami
8,7
13,09
24,3
Paving
3
Semi

16
Pisang candi
19,6
13
96
Tanah
5
Tertutup

17
Jl. Gading pesantren
6,5
7,5
71,25
Semen
1
Semi

18
Jln.terusan surabaya
2,1
0
6
Paving
1
Semi

19
Jln.jombang 1B
6,5
4,3
40
Tanah
0
Tertutup











RATA-RATA
10,41
10,1205263
0
0
0
0


NILAI  MINIMUM
2,1
0
0
0
0
0


NILAI MAXIMUM
21,8
21,8
0
0
9
0






















HASIL PRAKTIKUM

A.    Rata – rata evaporasi yang didapat dari hasil praktikum adalah sebagai berikut
-          Air bersih = 10,41 mm
-          Air tercemar = 10,12 mm
Kalau dilihat dari rata – rata yang dihasilkan mengidentifiasikan bahwa air bersih lebih banyak mengalami evaporasi dibangdingkan air tercemar, hal ini dikarenakan dalam air tercemar mengandung ion – ion bermuatan jika terkena matahari, ion teresebut akan bergerak lebih cepat, sehingga suhu air menjadi lebih tinggi dan penguapan menjadi lebih besar.
B.     Nilai Minimum dan Nilai Maksimum
Untuk nilai minimum dan nilai minimum ini bertolak belakang dengan rata rata yang dihasilkan. Disini menyatakan bahwa air bersih lebih banyak mengalami evaporasi dibanding dengan air tercemar. Hal yang menyebabkan beda karena kondisi tempat yang ada karena tidak semua tempat mengalami hal yang sama. Faktor kelembapan mungkin bisa jadi faktor kurangnya evaporasi pada air tercemar, penaruhan tempat evaporasi pan (rantang) yang berisi air tercemar memiliki tingkat kelembapan yang lebih besar dibanding air bersih yang berada di sebelahnya. Faktor makhluk hidup seperti hewan juga menjadi faktor yang mempengaruhi kegiatan evaporasi kedua sample tersebut.
C.     Kondisi Lingkungan Yang Mempengaruhi Proses Evaporasi
a.       Air Bersih
Tabel 1.2 Aanalisis besarnya evaporasi pada air bersih hubunganya dengan luas Area praktikum.
E Air Bersih (mm)
Luas Area (m2)
Jumlah
<100
100-300
>300
>14
5
1
0
6
7-14
4
0
2
6
<7
7
0
1
8

Dilihat dari angka yang mendominasi adalah angka 7 (mewakili kelompok) untuk evaporasi <7 mm dengan luas area yang sempit yakni <100 m2 . Data tersebut menyatakan bahwa semakin sempit wilayah atau tempat, menyebabkan evaporasi terhadap air bersih sedikit. Sempitnya tempat menyebabkan kurangnya sinar matahari yang masuk dan menyinari tempat tersebut.



Tabel 1.3  Analisis besarnya evaporasi pada air bersih hubunganya dengan bahan dasar lantai tempat praktikum.
E Air Bersih (mm)
Lantai
Jumlah
semen/aspal
Paving
Tanah
rumput
>14
0
4
0
0
4
7-14
1
4
2
0
7
<7
2
3
3
0
8

Data tersebut menunjukan evaporasi banyak terjadi apabila tempat meletakkan alat evaporasi berupa pan evaporasi atau rantang dilantai dasar paving.  Lantai ini memiliki sifat yang dapat dengan mudah menyerap panas dan tidak mudah melepaskan panas oleh karenanya pengupan akan sangat mudah karena lantainya cepat panas, berbeda dengan tanah atau rumput. Tanah memiliki sifat dapat menyerap panas dan dapat dengan mudah melepaskan panas apabila dalam kurun waktu 11 jam matahari tidak menyinari selama itu tanah akan kembali ke suhu normal, oleh karenanya evaporasi yang terjadi juga tidak terlalu banyak dibandingkan dengan yang berada di lantai berupa paving. Untuk rumput, fungsi tumbuhan adalah mengahasilkan O2 dan menyerap CO2, oleh karenanya apabila pan evaporasi atau rantang beralaskan rumput,evaporasi pun juga tidak maksimal karena suhunya akan terus lembab.
Tabel 1.4 Analisis besarnya evaporasi pada air bersih hubunganya dengan banyaknya umlah pohon tempat praktikum.
E Air Bersih (mm)
Jumlah Pohon
Jumlah
<3
3-5
>5
>14
3
3
1
7
7-14
5
2
1
8
<7
4
0
0
4
Banyaknya pohon atau vegetasi pada tempat praktikum sangat mempengaruhi banyaknya evaporasi yang terjadi semakin banyak pohon pada daerah sekitar tempat evaporasi semakin sedikit evaporasi yang terjadi. Karena kandungan O2 dari hasil fotosintesis yang dihasilkan oleh vegetasi di tempat itu membuat keadaan tempat menjadi sejuk oleh karenanya proses evaporasi tidak dapat maksimal.


Tabel 1.5 Analisis besarnya evaporasi pada air bersih hubunganya dengan  keterbukaan tempat praktikum.
E Air Bersih (mm)
Keterbukaan
Jumlah
Tertutup
Semi
Terbuka
>14
2
2
1
5
7-14
4
2
0
6
<7
1
4
3
8

Pada tabel diatas menunukkan bahwa pada keterbukaan yang bertipe tertutup  karena intensitas sinar matahari lebih banyak dari pada angin. di didaerah tertutup lebih besar evaporasinya

b.      Air tercemar
Tabel 1.6 Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan luas Area praktikum.
E Air Tercemar (mm)
Luas Area m2
Jumlah
<100
100-300
>300
>12
5
1
0
6
6-12
6
0
1
7
<6
4
0
2
6
     
Dilihat dari angka yang mendominasi adalah angka 6 (mewakili kelompok) untuk evaporasi 6-12 mm dengan luas area yang sempit yakni <100 m2.  Data tersebut menyatakan bahwa semakin sempit wilayah atau tempat, menyebabkan evaporasi terhadap air tercemar juga sedikit. Sempitnya tempat menyebabkan kurangnya sinar matahari yang masuk dan menyinar tempat tersebut.

Tabel 1.7 Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan bahan dasar lantai tempat praktikum.
E Air Tercemar (mm)
Lantai
Jumlah
Semen/aspal
Paving
Tanah
Rumput
>12
0
5
1
0
6
6-12
2
4
2
0
8
<6
1
2
2
0
5

Data tersebut menunjukan evaporasi banyak terjadi apabila lantai tempat menaruh pan evaporasi (rantang) beralaskan dasar paving. Lantai yang beralaskan paving bisa dikatakan cukup besar dalam menyerap panas karena paving memiliki sifat yang cukup mudah dalam menyerap panas dan mudah melepaskan panas karena susunan pembuatnya yang berasal dari bahan semen. Semen sendiri memiliki sifat mudah melepaskan panas dan mudah melepaskan panas. Berbeda dengan tanah atau rumput tanah memiliki sifat dapat menyerap panas dan dapat dengan mudah melepaskan panas apabila dalam kurun waktu 11 jam matahari tidak menyinari selama itu tanah akan kembali ke suhu normal oleh karenanya evaporasi yang terjadi juga tidak terlalu banyak dibandingkan dengan yang beralaskan aspal dan semen. Untuk rumput, fungsi tumbuhan adalah mengahasilkan O2 dan menyerap CO2, oleh karenanya apabila pan evaporasi (rantang) beralaskan rumput menyebabkan evaporasi pun juga tidak maksimal karena suhunya akan terus lembab.

Tabel 1.8 Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan bahan dasar banyaknya pohon tempat praktikum.
E Air Tercemar (mm)
Banyaknya Pohon
Jumlah
<3
3-5
>5
>12
3
3
1
7
6-12
5
2
1
8
<6
4
0
0
4
Banyknya pohon atau vegetasi pada tempat praktikum sangat mempengaruhi banyaknya evaporasi yang terjadi. Semakin banyak pohon pada daerah sekitar tempat evaporasi semakin sedikit evaporasi yang terjadi. Begitupun sebaliknya.
Tabel 1.9 Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan bahan dasar kelembapan tempat praktikum.
E Air Tercemar (mm)
Keterbukaan
Jumlah
Terbuka
Semi
Tertutup
>12
3
3
1
7
6-12
1
3
2
6
<6
3
2
1
6

Keterbukaan pada tempat praktikum sangat memengaruhi banyaknya evaporasi yang teradi semakain terbuka pada daerah tempat evaporasi semakin banyak evaporasi  yang teradi. Semakin tertutup maka evaporasi yang teradi semakin sedikit.











Tabel 1.1 Uji Independent Sample t-Test

Tabel 1.2Uji Regresi Simultan
ANOVAa
Model
Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
1
Regression
77,481
4
19,370
,503
,734b
Residual
538,803
14
38,486


Total
616,284
18



a. Dependent Variable: Evaporasi
b. Predictors: (Constant), Keterbukaan, Pohon, Lantai, Luas
Uji regresi simultan
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel X apabila diuji bersama terhadap variabel Y, karena variabel X terdiri lebih dari satu. Hasil analisis uji F menggunakan taraf signifikansi 0,05 memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,734 (H0 ditolak karena ≥ 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa  ada pengaruh yang signifikan antara kondisi lingkungan (jenis lantai, luas lantai, jumlah pohon, dan keterbukaan) terhadap evaporasi.

Tabel 1.3 Uji Regresi Parsial
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
9,340
7,505

1,245
,234
Luas
-,002
,008
-,077
-,280
,783
Lantai
-1,648
2,344
-,185
-,703
,494
Pohon
,625
,702
,230
,890
,389
Keterbukaan
2,223
2,024
,290
1,098
,291
a. Dependent Variable: Evaporasi

Uji regresi parsial
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh hubungan setiap variabel X terhadapat variabel Y. Hasil analisis yang telah didapatkan menunjukkan bahwa pengaruh variabel X1 (luas lantai) terhadap variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,783(H0 ditolak karena ≥ 0,05); pengaruh variabel X2(jenis lantai) terhadap variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,494 (H0 ditolak karena ≥ 0,05); pengaruh variabel X3(jumlah pohon)  terhadap variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,389 (H0 ditolak karena ≥ 0,05); dan pengaruh variabel X4 (keterbukaan) terhadap variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,291 (H0 ditolak karena ≥ 0,05). Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap variabel X mempunyai pengaruh terhadap variabel Y sesuai dengan nilai signifikansinya.
Tabel 1.4 Uji Koefisien Korelasi
Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1
          ,355a
,126
-,124
6,20370
a.     Predictors: (Constant), Keterbukaan, Pohon, Lantai, Luas
b.     Dependent Variable: Evaporasi

Uji koefisien korelasi
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan taraf hubungan antara X1 (luas lantai), X2(jenis lantai), X3 (jumlah pohon), dan X4 (keterbukaan) terhadap variabel Y (evaporasi). Hasil pengujian menunjukkan nilai taraf korelasi sebesar 0,355. Sehingga menunjukkan adanya variabel luas lantai, jenis lantai, jumlah pohon dan keterbukaan terhadap evaporasi mempunyai tingkat hubungan yang rendah (0,200 – 0,399).

Tabel 1.5 Uji Koefisien Determinasi

Model Summaryb
Model
R
R Square
Adjusted R Square
Std. Error of the Estimate
1
,355a
,126
-,124
6,20370
a.     Predictors: (Constant), Keterbukaan, Pohon, Lantai, Luas
b.     Dependent Variable: Evaporasi

Uji koefisien determinasi
Pengujian ini dilakukan untuk menentukan besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y. Hasil R square menunjukkan 0,126, sehingga 0,126 X 100% = 12,6%. Hal tersebutmenunjukkanbahwavariabel X (luas lantai, jenis lantai, jumlah pohon dan keterbukaan) mempunyaipengaruhterhadapvariabel Y sebesar 12,9%. Sedangkansisanyamerupakanvariabel yang tidakditelitidanmempengaruhivariabel Y.

Tabel 1.6 Uji Persamaan Regresi
Coefficientsa
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
T
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
9,340
7,505

1,245
,234
Luas
-,002
,008
-,077
-,280
,783
Lantai
-1,648
2,344
-,185
-,703
,494
Pohon
,625
,702
,230
,890
,389
Keterbukaan
2,223
2,024
,290
1,098
,291
a. Dependent Variable: Evaporasi

Uji persamaan regresi
Persamaan regresi dapat digunakan untuk melakukan prediksi atau ramalan bagaimana individu dalam variabel kriterium akan terjadi bila individu dalam variabel predikator ditetapkan.Ῠ = 9,340- 0,002X1– 1,648X2+ 0,625 X3 + 2,223 X4
Jika tidak terdapat kenaikan antara skor luas lantai (X1), jenis lantai (X2), jumlah pohon (X3) dan keterbukaan (X4) menunjukkan konstanta sebesar9,340. Koefisien regresi yang dihasilkan oleh X1, X2, X3dan X4menunjukkan adanya arah hubungan setiap variabel. Hasil tersebut menunjukkan bahwa variabel X1mempunyai arah hubungan yang negative, variabel X2mempunyai arah hubungan yang negatif, variabel X3 menunjukkan arah hubungan yang positif dan variabel X4 mempunyai arah hubungan yang positif. Sehingga luas lantai akan turun dengan besar konstanta 0,002, jenis lantai akan turun dengan besar konstanta1,648 , jenis lantai akan naik dengan besar konstanta 0,625 dan keterbukaan akan naik dengan besar konstanta2,223. Sehingga semakin luas lantai hasil evaporasi akan sedikit, semakin jenis lantai menggunakan semen maka hasil evaporasi akan sedikit, semakin banyak pohon maka hasil evaporasi semakin meningkat, dan semakin terbuka suatu tempat maka hasil evaporasi akan semakin meningkat.














E.     PEMBAHASAN
Praktikum pengukuran evaporasi atau penguapan pada acara II ini dilakukan di wilayah sekitar Universitas Negeri Malang yang dibagi dalam 19 titik sebagai lokasi dilakukannya pengukuran penguapan. Pada praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu menganalisis sebaran tingkat evaporasi di sekitar wilayah Universitas Negeri Malang, menganalisis perbedaan evaporasi air bersih dan air tercemar, serta menganalisis hubungan kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi yang ada.
Lokasi pengukuran evaporasi yang kami lakukan berada di Asrama PGSD Universitas Negeri Malang, Waktu pengukuran dilakukan pada tanggal 11 Maret 2017 mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Tempat pengukuran dilakukan di halaman Asrama PGSD Universitas Negeri Malang dengan luas wilayahnya 24 m². Keterbukaan wilayah pengukuran termasuk dalam terbuka, karena tidak ada tembok di sekitar wilayah pengukuran. Lantai atau alas dari pengukuran ini yaitu tanah dengan jumlah pohon disekitarnya sebanyak 2 pohon. Pengukuran penguapan dilakukan dengan cara mengambil 2 sampel air berbeda, satu air bersih yang diambil dari asarama putra universitas negeri malang dan satu sampel berupa air tercemar yang diambil dari trapesium UM.
Hasil dari pengujian sampel didapatkan hasil bahwa air yang menguap pada sampel air bersih sebanyak 6,5ml dari 600ml, sedangkan pada sampel air tercemar sebanyak 4,3ml dari 600ml. Dapat disimpulkan dari haril pengujian bahwa sampel air bersih lebih cepat menguap dari pada sampel air tercemar.
Hubungan antara kondisi lingkungan terhadap tingkat evaporasi tersebut tidak sesuai dengan teori yang ada. Hasil dari tabel tersebut menunjukkan bahwa
1.                  Luas wilayah pada saat pengujian tingkat evaporasi air bersih tersebut dapat dikatakan berbanding lurus, sedangkan pada tingkat evaporasi air tercemar dapat dikatakan tidak ada pengaruh sama sekali.
2.                  Pada tabel hubungan antara kondisi lantai terhadap tingkat evaporasi, dapat dilihat bahwasannya teori pemantulan cahaya oleh lantai tidak begitu berpengaruh terhadap tingkat evaporasi. Karena lantai aspal/semen yang seharusnya dapat memantulkan cahaya secara penuh tidak berpengaruh terhadap tingkat evaporasi. Sedangkan lantai paving memiliki pengaruh yang lebih besar dalam  pemantulan cahaya.
Pada tabel selanjutnya menjelaskan bahwa jumlah pohon yang ada disekitar tempat terjadinya evaporasi air bersih berbanding lurus dengan besar kecilnya tingkat evaporasi. Sedangkan jumlah pohon yang ada disekitar tempat terjadinya evaporasi air tercemar hanya mempengaruhi tingkat evaporasi secara tidak penuh.
3.                  Kondisi keterbukaan lingkungan dinilai tidak berpengaruh secara maksimal terhadap tingkat evaporasi air bersih. Sebaliknya, pada tingkat evaporasi air tercemar kondisi keterbukaan lingkungan berpengaruh secara maksimal.
Dari hasil diatas menunjukkan bahwa luas wilayah, kondisi lantai, jumlah pohon, serta keterbukaan lingkungan tidak berpengaruh secara penuh terhadap tingkat evaporasi dua sampel air yang ada. Kami berpendapat bahwa mungkin terdapat faktor – faktor lain yang mempengaruhi tingkat evaporasi sampel air tersebut seperti arah datangnya cahaya, kecepatan angin, kelembapan udara, itensitas penyinaran matahari, serta tinggi rendahnya tekanan udara dilingkungan terjadinya evaporasi.
Setelah membuat tabel klasifikasi, kami melakukan uji regresi terhadap data yang ada dengan hipotesis serta kriteria pengujian sebagai berikut:
1.      Hipotesis Evaporasi Air Bersih
a.       H0 = Tidak ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air bersih.
b.      H1 = Ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air bersih.

2.      Hipotesis Evaporasi Air Tercemar
a.       H0 = Tidak ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air tercemar.
b.      H1 = Ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air tercemar.
3.      Kriteria Perhitungan
Sig ≥ 0,05 H0 diterima, artinya tidak ada hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air bersih dan air tercemar.
Sig ≤ 0,05 H0 ditolak, artinya ada hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air bersih dan air tercemar.
.Berdasarkan hasil perhitungan regresi diatas diketahui bahwa nilai F dari regresi air bersih adalah 0,503 yang berarti H0 diterima karena nilai F ≥ 0,05. Sedangkan  nilai F dari regresi air tercemar adalah 0,307 yang berarti H0 diterima karena nilai F ≥ 0,05. Dari kriteria pengujian regresi berdasarkan signifikan terhadap air bersih dan air tercemar dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi karena Sig pada air bersih dan air tercemar ≥ 0,05.
Selain itu berdasarkan tabel Model Summary bagian R Square menunjukkan bahwa pada uji Regresi Pengaruh Kondisi Lingkungan terhadap tingkat Evaporasi Air Bersih, kondisi lingkungan hanya berpengaruh sebesar 12,6% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor – faktor yang lain.
Sedangkan berdasarkan tabel Model Summary bagian R Square menunjukkan bahwa pada uji Regresi Pengaruh Kondisi Lingkungan terhadap tingkat Evaporasi Air Tercemar, kondisi lingkungan hanya berpengaruh sebesar 8,1% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor – faktor yang lain.

4.   KESIMPULAN

1.   Dari hasil pengujian sampel air bersih dan air tercemar dapat disimpulkan bahwa kondisi tidak mempengaruhi pada proses evaporasi.
2.   Terdapat faktor lain yang mempengaruhi proses evaporasi pada pengujian sampel, khususnya sampel air tercemar yang seharusnya banyak mengandung ion, akan tetapi pada sampel air tercemar mengandung kation.
3.   Faktor yang mempengaruhi antara lain: penyinaran matahari, angin, keterbukaan, vegetasi, aktivitas manusia dan lainnya.



DAFTAR PUSTAKA

Suharyono. Y.A. 2011. EVAPORASI,  (Online), (e-journal.uajy.ac.id/1764/3/2TS12808.pdf), diakses 19 Maret 2017.

Utaya,S. 2013. PENGANTAR HIDROLOGI. Malang: Aditya Media Publishing.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar