LAPORAN PRAKTIKUM PENGUKURAN
BESARNYA EVAPORASI DI WILAYAH UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Untuk
memenuhi tugas Matakuliah Hidrologi yang dibimbing oleh:
Prof.
Dr. Sugeng Utaya, M.Si
Fatiya
Rosyida, M.Pd
Disusun
oleh:
Mochamad
Rihski Abd.Fajar
Muhammad
Muhlas Ardianto

UNIVERSITAS
NEGERI MALANG
FAKULTAS
ILMU SOSIAL
JURUSAN
GEOGRAFI
MARET
2017
A.
TOPIK
PRAKTIKUM
Pengukuran besarnya evaporasi diwilayah Universitas
Negeri Malang dengan pembagian lokasi praktikum atau titik yang menyebar.
B. TUJUAN
Tujuan
dari praktikum evaporasi ini adalah sebagi berikut:
1. Menganalisis
sebaran evaporasi di wilayah Universitas Negeri Malang
2. Menganalisis
perbedaan evaporasi air bersih dan air tercemar
3. Menganalisis
hubungan kondisi lingkungan dengan evaporasi
C. DASAR TEORI
Evaporasi
(penguapan) menurut para ahli adalah perubahan air menjadi uap air. Airyang ada
di bumi bila terjadi proses evaporasi akan hilang ke atmosfer menjadi uap
air.Evaporasi dapat terjadi dari permukaan air bebas seperti bejana berisi air,
kolam,waduk, sungai ataupun laut. Proses evaporasi dapat terjadi pada benda
yangmengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang basah, Suhardianto (1999)
dalam artikel online. Sedangkan menurut(Lakitan, 1994) Evaporasi
adalah salah satu komponen siklus hidrologi, yaitu peristiwa menguapnya air
dari permukaan air, tanah,dan bentuk permukaan bukan dari vegetasi
lainnya.Evaporasi merupakan proses penguapan air yang berasal dari permukaan
bentangan air atau dari bahan padat yang mengandung air Evaporasi
juga dapat diartikan sebagai salah satu komponen siklus hidrologi, yaitu
peristiwa menguapnya air dari sumber-sumber air yang ada baik dipermukaan tanah
dan bentuk permukaan lainya yang bukan vegetasi.
Evaporasi merupakan bagian dari siklus hidrologi
atau siklus air. Siklus hidrologi akan dimulai dari penguapan terlebih dahulu.
Penguapan tersebut dapat berasal dari sumber air yang ada dibumi, seperti
samudera, laut, danau, rawa, sungai, dan bendungan, dan diarea lain yang ada
sumber airnya. Semua air tersebut akan berubah menjadi uap air karena adanya
radiasi atau panas dari matahari. Evaporasi akan mengubah bentuk air menjadi
gas. Karena wujudnya gas maka maka hal ini dimungkinkan bahwa gas tersebut
dapat naik ketas karena terbawa oleh angin. Semakin banyak panas matahari yang
diterima maka semakin banyak gas atau uap air yang terbawa ketas (atmosfer).
Dari pemaparan sebelumnya dapat diketahui bahwa
evaporasi merupakan faktor yang penting dalam siklus hidrologi, evaporasi juga
mempengaruhi debit sungai, besarnya kapasitas waduk, besarnya kapasitas
bendungan, pompa untuk irigasi, dan penggunaan komsumtif tanaman. Laju
evaporasi atau penguapan akan berubah-ubah menurut warna dan sifat pemantulan
permukaan dan hal ini juga berbeda untuk permukaan yang langsung tersinari oleh
matahari.
Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat
evaporasi:
1.
Radiasi
Matahari
Proses evaporasi
terjadi di siang hari dan kerap kali juga malan hari. Perubahan eujud cair
menjadi gas membutuhkan energi berupa panas. Sumber energi utama tersebur adalah
matahari. Semakinkesempatan penyinaran panas oleh matahari didapatkan maka
evaporasi akan semakin tinggi. Biasanya sinar matahari tidak langsung diterima
dibawah karena awan yang menghalanginya.
2. Angin.
Ketika air
menguap ke atmosfir, maka lapisan batas antara tanah dengan udara menjadi jenuh
dengan uap air, sehingga proses evaporasiberhenti. Agar proses evaporasi dapat
terus berjalan, maka udara tersebut haruslah diganti dengan udara kering.
Pergantian tersebut dapat dimungkinkan jika terjadi angin, jadi kecepatan angin
memegang peranan dalam proses evaporasi.
3.
Kelembaban
relatif.
Faktor lain yang
mempengaruhi evaporasi adalah
kelembaban
relatif udara. Jika kelembaban relatif ini naik, kemampuannya
untuk
menyerap uap air akan berkurang sehingga laju evaporasinya akan
menurun.
Penggantian lapisan udara pada batas tanah dan udara dengan
udara
yang sama kelembaban relatifnya tidak akan menolong untuk
memperbesar
laju evaporasi.
4.
Suhu/
temperatur.
Seperti disebutkan di atas suatu input energi
sangat diperlukan agar evaporasi berjalan terus. Jika suhu udara dan tanah
cukup tinggi, proses evaporasi akan berjalan lebih cepat dibandingkan jika suhu
udara dan tanah rendah, karena adanya energi panas tersedia. Karena kemampuan
udara untuk menyerap uap air akan naik jika suhunya naik, maka suhu udara
memiliki efek ganda terhadap besarnya evaporasi, sedangkan suhu tanah dan air
mempunyai efek tunggal.
Air yang ada dibumi ini apabila mengalami proses
evaporasi maka akan hilang menuju ke atmosfer menjadi uap air. Proses evaporasi
dapat terjadi pada benda yang mengandung air, lahan yang gundul atau pasir yang
basah. Pada lahan yang basah, evaporasi mengakibatkan tanah menjadi kering dan
dapat mempengaruhi tanaman yang tumbuh ditanah tersebut. Proses
evaporasi sebenarnya terdiri dari dua peristiwa yang berkelanjutan, yaitu:
1. Interface
evaporation yaitu transformasi dari air menjadi uap air yang berada di
permukaan air.
2. Vertical
Vaportransfer yaitu pemindahan udara yang kenyang uap air dariinterface ke
atmosfer. Faktor – faktor yang mempengaruhi penguapan adalah kelembapan udara,
tekanan udara, kecepatan angin, lama penyinaran matahari, temperatur air, luas
permukaan air, kualitas air, topografi, dan iklim.
Besarnya
nilai evaporasi dapat diperoleh baik dengan cara pengukuran langsung maupun
secar empiris. Pengukuran langsung dilakukan dengan menggunakan alat atmometer,
lysimeter, dan Evaporation Pan. Sedangkan perhitungan evaporasi secara empiris
dengan menggunakan model/rumus yang ditemukan olehpara ahl hidrologi/meteorologi.
Salah satu rumus empiris yang cukup populer dan sering digunakan adalah rumus
Thornweite (Utaya, 2001:12).
D.
ALAT DAN
BAHAN
1.
Bahan
·
Air Jernih (bersih).
·
Air tercemar (kotor).
2.
Alat
·
Panci Evaporasi (rantang) dengan
diameter 15 cm
·
Botol air mineral bekas ukuran sedang
(600 ml)
·
Gelas ukur tiruan sederhana
·
Alat tulis
·
Alat pengukur luas tempat (kayu dengan
panjang 50 cm)
3.
Langkah Kerja
1. Menentukan
lokasi praktikum evaporasi. Lokasi diambil di Universitas Negeri Malang.
2. Menyiapkan
2 buah rantang untuk mengukur besarnya
evaporasi.
3. Menyiapakan
2 macam sampel air (air bersih dan air kotor) dan dimasukan kedalam dua buah
rantang evaporasi. Masing-masing rantang menampung air setinggi 3 cm.
4. Meletakan
dua rantang untuk pengukuran evaporasi dengan sampel air tersebut di tempat
yang ditetapkan, pada pukul 06:00 WIB dengan jarak antar panci yang
berhimpitan.
5. Setelah
11 jam tepatnya pukul 17:00 WIB, rantang diambil dan di identifikasi seperti
Menghitung penyusustan ketinggian air pada kedua rantang tersebut.
6. Setelah
diketahui hasil penyusutanya maka akan dilanjutkan dengan pengolahan data.
|
4. HASIL PRAKTIKUM
REKAPITULASI DATA HASIL PRAKTIKUM
EVAPORASI
|
||||||||||||||||
|
PEND.GEOGARFI OFF - K 2016
|
||||||||||||||||
|
Tabel 1.1
|
||||||||||||||||
|
KELOMPOK
|
LOKASI
|
PENGUAPAN (mm)
|
KONDISI LINGKUNGAN
|
|||||||||||||
|
Air bersih
|
Air tercemar
|
Luas (m2)
|
Lantai
|
Jmlh Pohon
|
Kelembapan
|
|||||||||||
|
1
|
Sawojajar
|
8,7
|
10,9
|
56
|
Semen
|
3
|
Terbuka
|
|||||||||
|
2
|
Jl. Terusan ambarawa
|
4,3
|
8,7
|
7,5
|
Tanah
|
0
|
Tertutup
|
|||||||||
|
3
|
Jl. Candi 24 MIS
|
6,5
|
9,3
|
26
|
Semen
|
1
|
Tertutup
|
|||||||||
|
4
|
Asrama putri
|
8,7
|
6,5
|
350
|
paving
|
0
|
Terbuka
|
|||||||||
|
5
|
Jl. Sumbersari gg. 5
|
8,7
|
6,5
|
24,3
|
Paving
|
2
|
Terbuka
|
|||||||||
|
6
|
Jln.Jombang gg. 1A
|
17,4
|
15,2
|
8,82
|
Paving
|
3
|
Semi
|
|||||||||
|
7
|
Asrama PGSD
|
6,5
|
4,3
|
24
|
Tanah
|
2
|
Terbuka
|
|||||||||
|
8
|
Gazebo FE
|
6,5
|
8,2
|
529,6
|
Paving
|
9
|
Semi
|
|||||||||
|
9
|
Telkom klojen
|
8,7
|
10,9
|
9,75
|
Paving
|
3
|
Semi
|
|||||||||
|
10
|
Jl. Jombang gg 1
|
19,6
|
17,4
|
14,4
|
Paving
|
1
|
Terbuka
|
|||||||||
|
11
|
Jl. Jombang gg 1A
|
21,8
|
15,2
|
10
|
Paving
|
3
|
Terbuka
|
|||||||||
|
12
|
Jln.candi 1 A
|
17,4
|
21,8
|
300
|
Paving
|
2
|
Semi
|
|||||||||
|
13
|
Lapangan voly
|
13,09
|
15,2
|
710
|
Tanah
|
0
|
Terbuka
|
|||||||||
|
14
|
Merjosari
|
6,5
|
4,3
|
10
|
Paving
|
1
|
Terbuka
|
|||||||||
|
15
|
Jl. Bendungan sutami
|
8,7
|
13,09
|
24,3
|
Paving
|
3
|
Semi
|
|||||||||
|
16
|
Pisang candi
|
19,6
|
13
|
96
|
Tanah
|
5
|
Tertutup
|
|||||||||
|
17
|
Jl. Gading pesantren
|
6,5
|
7,5
|
71,25
|
Semen
|
1
|
Semi
|
|||||||||
|
18
|
Jln.terusan surabaya
|
2,1
|
0
|
6
|
Paving
|
1
|
Semi
|
|||||||||
|
19
|
Jln.jombang 1B
|
6,5
|
4,3
|
40
|
Tanah
|
0
|
Tertutup
|
|||||||||
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|||||||||
|
|
RATA-RATA
|
10,41
|
10,1205263
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|||||||||
|
|
NILAI MINIMUM
|
2,1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|||||||||
|
|
NILAI MAXIMUM
|
21,8
|
21,8
|
0
|
0
|
9
|
0
|
|||||||||
HASIL
PRAKTIKUM
A. Rata –
rata evaporasi yang didapat dari hasil praktikum adalah sebagai berikut
-
Air bersih = 10,41 mm
-
Air tercemar = 10,12 mm
Kalau
dilihat dari rata – rata yang dihasilkan mengidentifiasikan bahwa air bersih
lebih banyak mengalami evaporasi dibangdingkan air tercemar, hal ini dikarenakan
dalam air tercemar mengandung ion – ion bermuatan jika terkena matahari, ion
teresebut akan bergerak lebih cepat, sehingga suhu air menjadi lebih tinggi dan
penguapan menjadi lebih besar.
B. Nilai Minimum dan Nilai Maksimum
Untuk nilai minimum dan nilai minimum ini bertolak belakang dengan rata
rata yang dihasilkan. Disini menyatakan bahwa air bersih lebih banyak mengalami
evaporasi dibanding dengan air tercemar. Hal yang menyebabkan beda karena
kondisi tempat yang ada karena tidak semua tempat mengalami hal yang sama.
Faktor kelembapan mungkin bisa jadi faktor kurangnya evaporasi pada air
tercemar, penaruhan tempat evaporasi pan (rantang) yang berisi air tercemar
memiliki tingkat kelembapan yang lebih besar dibanding air bersih yang berada
di sebelahnya. Faktor makhluk hidup seperti hewan juga menjadi faktor yang
mempengaruhi kegiatan evaporasi kedua sample tersebut.
C. Kondisi Lingkungan Yang Mempengaruhi Proses Evaporasi
a.
Air Bersih
Tabel 1.2 Aanalisis besarnya evaporasi pada air
bersih hubunganya dengan luas Area praktikum.
|
E Air Bersih (mm)
|
Luas Area (m2)
|
Jumlah
|
||
|
<100
|
100-300
|
>300
|
||
|
>14
|
5
|
1
|
0
|
6
|
|
7-14
|
4
|
0
|
2
|
6
|
|
<7
|
7
|
0
|
1
|
8
|
Dilihat
dari angka yang mendominasi adalah angka 7 (mewakili kelompok) untuk evaporasi
<7 mm dengan luas area yang sempit yakni <100 m2 . Data
tersebut menyatakan bahwa semakin sempit wilayah atau tempat, menyebabkan
evaporasi terhadap air bersih sedikit. Sempitnya tempat menyebabkan kurangnya
sinar matahari yang masuk dan menyinari tempat tersebut.
Tabel
1.3 Analisis besarnya evaporasi pada air
bersih hubunganya dengan bahan dasar lantai tempat praktikum.
|
E Air Bersih (mm)
|
Lantai
|
Jumlah
|
|||
|
semen/aspal
|
Paving
|
Tanah
|
rumput
|
||
|
>14
|
0
|
4
|
0
|
0
|
4
|
|
7-14
|
1
|
4
|
2
|
0
|
7
|
|
<7
|
2
|
3
|
3
|
0
|
8
|
Data tersebut menunjukan evaporasi banyak terjadi apabila tempat
meletakkan alat evaporasi berupa pan evaporasi atau rantang dilantai dasar
paving. Lantai ini memiliki sifat yang
dapat dengan mudah menyerap panas dan tidak mudah melepaskan panas oleh
karenanya pengupan akan sangat mudah karena lantainya cepat panas, berbeda
dengan tanah atau rumput. Tanah memiliki sifat dapat menyerap panas dan dapat
dengan mudah melepaskan panas apabila dalam kurun waktu 11 jam matahari tidak
menyinari selama itu tanah akan kembali ke suhu normal, oleh karenanya
evaporasi yang terjadi juga tidak terlalu banyak dibandingkan dengan yang
berada di lantai berupa paving. Untuk rumput, fungsi tumbuhan adalah
mengahasilkan O2 dan menyerap CO2, oleh karenanya apabila pan evaporasi atau
rantang beralaskan rumput,evaporasi pun juga tidak maksimal karena suhunya akan
terus lembab.
Tabel 1.4
Analisis besarnya evaporasi pada air bersih hubunganya dengan banyaknya umlah pohon
tempat praktikum.
|
E Air Bersih (mm)
|
Jumlah Pohon
|
Jumlah
|
||
|
<3
|
3-5
|
>5
|
||
|
>14
|
3
|
3
|
1
|
7
|
|
7-14
|
5
|
2
|
1
|
8
|
|
<7
|
4
|
0
|
0
|
4
|
Banyaknya
pohon atau vegetasi pada tempat praktikum sangat mempengaruhi banyaknya
evaporasi yang terjadi semakin banyak pohon pada daerah sekitar tempat
evaporasi semakin sedikit evaporasi yang terjadi. Karena kandungan O2 dari
hasil fotosintesis yang dihasilkan oleh vegetasi di tempat itu membuat keadaan
tempat menjadi sejuk oleh karenanya proses evaporasi tidak dapat maksimal.
Tabel 1.5
Analisis besarnya evaporasi pada air bersih hubunganya dengan keterbukaan tempat praktikum.
|
E Air Bersih (mm)
|
Keterbukaan
|
Jumlah
|
||
|
Tertutup
|
Semi
|
Terbuka
|
||
|
>14
|
2
|
2
|
1
|
5
|
|
7-14
|
4
|
2
|
0
|
6
|
|
<7
|
1
|
4
|
3
|
8
|
Pada tabel diatas menunukkan bahwa pada keterbukaan
yang bertipe tertutup karena intensitas
sinar matahari lebih banyak dari pada angin. di didaerah tertutup lebih besar
evaporasinya
b.
Air tercemar
Tabel 1.6
Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan luas Area praktikum.
|
E Air Tercemar (mm)
|
Luas Area m2
|
Jumlah
|
||
|
<100
|
100-300
|
>300
|
||
|
>12
|
5
|
1
|
0
|
6
|
|
6-12
|
6
|
0
|
1
|
7
|
|
<6
|
4
|
0
|
2
|
6
|
Dilihat
dari angka yang mendominasi adalah angka 6 (mewakili kelompok) untuk evaporasi
6-12 mm dengan luas area yang sempit yakni <100 m2. Data tersebut menyatakan bahwa semakin sempit
wilayah atau tempat, menyebabkan evaporasi terhadap air tercemar juga sedikit.
Sempitnya tempat menyebabkan kurangnya sinar matahari yang masuk dan menyinar
tempat tersebut.
Tabel 1.7
Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan bahan dasar
lantai tempat praktikum.
|
E Air Tercemar (mm)
|
Lantai
|
Jumlah
|
|||
|
Semen/aspal
|
Paving
|
Tanah
|
Rumput
|
||
|
>12
|
0
|
5
|
1
|
0
|
6
|
|
6-12
|
2
|
4
|
2
|
0
|
8
|
|
<6
|
1
|
2
|
2
|
0
|
5
|
Data tersebut menunjukan evaporasi banyak terjadi apabila lantai tempat
menaruh pan evaporasi (rantang) beralaskan dasar paving. Lantai yang beralaskan
paving bisa dikatakan cukup besar dalam menyerap panas karena paving memiliki
sifat yang cukup mudah dalam menyerap panas dan mudah melepaskan panas karena
susunan pembuatnya yang berasal dari bahan semen. Semen sendiri memiliki sifat
mudah melepaskan panas dan mudah melepaskan panas. Berbeda dengan tanah atau
rumput tanah memiliki sifat dapat menyerap panas dan dapat dengan mudah
melepaskan panas apabila dalam kurun waktu 11 jam matahari tidak menyinari
selama itu tanah akan kembali ke suhu normal oleh karenanya evaporasi yang
terjadi juga tidak terlalu banyak dibandingkan dengan yang beralaskan aspal dan
semen. Untuk rumput, fungsi tumbuhan adalah mengahasilkan O2 dan menyerap CO2,
oleh karenanya apabila pan evaporasi (rantang) beralaskan rumput menyebabkan evaporasi
pun juga tidak maksimal karena suhunya akan terus lembab.
Tabel 1.8
Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan bahan dasar banyaknya
pohon tempat praktikum.
|
E Air Tercemar (mm)
|
Banyaknya Pohon
|
Jumlah
|
||
|
<3
|
3-5
|
>5
|
||
|
>12
|
3
|
3
|
1
|
7
|
|
6-12
|
5
|
2
|
1
|
8
|
|
<6
|
4
|
0
|
0
|
4
|
Banyknya
pohon atau vegetasi pada tempat praktikum sangat mempengaruhi banyaknya
evaporasi yang terjadi. Semakin banyak pohon pada daerah sekitar tempat
evaporasi semakin sedikit evaporasi yang terjadi. Begitupun sebaliknya.
Tabel 1.9
Analisis besarnya evaporasi pada air tercemar hubunganya dengan bahan dasar kelembapan
tempat praktikum.
|
E Air Tercemar (mm)
|
Keterbukaan
|
Jumlah
|
||
|
Terbuka
|
Semi
|
Tertutup
|
||
|
>12
|
3
|
3
|
1
|
7
|
|
6-12
|
1
|
3
|
2
|
6
|
|
<6
|
3
|
2
|
1
|
6
|
Keterbukaan pada tempat praktikum sangat
memengaruhi banyaknya evaporasi yang teradi semakain terbuka pada daerah tempat
evaporasi semakin banyak evaporasi yang
teradi. Semakin tertutup maka evaporasi yang teradi semakin sedikit.
Tabel
1.1 Uji Independent Sample t-Test

Tabel 1.2Uji Regresi Simultan
|
ANOVAa
|
||||||
|
Model
|
Sum of Squares
|
df
|
Mean Square
|
F
|
Sig.
|
|
|
1
|
Regression
|
77,481
|
4
|
19,370
|
,503
|
,734b
|
|
Residual
|
538,803
|
14
|
38,486
|
|
|
|
|
Total
|
616,284
|
18
|
|
|
|
|
|
a.
Dependent Variable: Evaporasi
|
||||||
|
b.
Predictors: (Constant), Keterbukaan, Pohon, Lantai, Luas
|
||||||
Uji regresi simultan
Pengujian ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel X apabila diuji bersama terhadap
variabel Y, karena variabel X terdiri lebih dari satu. Hasil analisis uji F
menggunakan taraf signifikansi 0,05 memperoleh nilai signifikansi sebesar 0,734
(H0 ditolak karena ≥ 0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara kondisi
lingkungan (jenis lantai, luas lantai, jumlah pohon, dan keterbukaan) terhadap
evaporasi.
Tabel
1.3 Uji Regresi Parsial
|
Coefficientsa
|
||||||
|
Model
|
Unstandardized
Coefficients
|
Standardized
Coefficients
|
T
|
Sig.
|
||
|
B
|
Std.
Error
|
Beta
|
||||
|
1
|
(Constant)
|
9,340
|
7,505
|
|
1,245
|
,234
|
|
Luas
|
-,002
|
,008
|
-,077
|
-,280
|
,783
|
|
|
Lantai
|
-1,648
|
2,344
|
-,185
|
-,703
|
,494
|
|
|
Pohon
|
,625
|
,702
|
,230
|
,890
|
,389
|
|
|
Keterbukaan
|
2,223
|
2,024
|
,290
|
1,098
|
,291
|
|
|
a. Dependent Variable: Evaporasi
|
||||||
Uji regresi parsial
Pengujian ini dilakukan
untuk mengetahui pengaruh hubungan setiap variabel X terhadapat variabel Y.
Hasil analisis yang telah didapatkan menunjukkan bahwa pengaruh variabel X1
(luas lantai) terhadap variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,783(H0
ditolak karena ≥ 0,05); pengaruh variabel X2(jenis lantai) terhadap
variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,494 (H0 ditolak karena ≥ 0,05);
pengaruh variabel X3(jumlah pohon)
terhadap variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,389 (H0 ditolak
karena ≥ 0,05); dan pengaruh variabel X4 (keterbukaan) terhadap
variabel Y menunjukkan nilai signifikansi 0,291 (H0 ditolak karena ≥ 0,05).
Dari hasil pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap variabel X
mempunyai pengaruh terhadap variabel Y sesuai dengan nilai signifikansinya.
Tabel 1.4 Uji Koefisien Korelasi
|
Model Summaryb
|
||||
|
Model
|
R
|
R
Square
|
Adjusted
R Square
|
Std.
Error of the Estimate
|
|
1
|
,355a
|
,126
|
-,124
|
6,20370
|
|
a.
Predictors: (Constant), Keterbukaan, Pohon, Lantai, Luas
b.
Dependent Variable: Evaporasi
|
||||
|
|
||||
Uji koefisien korelasi
Pengujian ini
dilakukan untuk menentukan taraf hubungan antara X1 (luas lantai), X2(jenis
lantai), X3 (jumlah pohon), dan X4 (keterbukaan) terhadap variabel Y
(evaporasi). Hasil pengujian menunjukkan nilai taraf korelasi sebesar 0,355.
Sehingga menunjukkan adanya variabel luas lantai, jenis lantai, jumlah pohon
dan keterbukaan terhadap evaporasi mempunyai tingkat hubungan yang rendah
(0,200 – 0,399).
Tabel 1.5 Uji Koefisien Determinasi
|
Model Summaryb
|
||||
|
Model
|
R
|
R
Square
|
Adjusted
R Square
|
Std. Error
of the Estimate
|
|
1
|
,355a
|
,126
|
-,124
|
6,20370
|
|
a.
Predictors: (Constant), Keterbukaan, Pohon, Lantai, Luas
b.
Dependent Variable: Evaporasi
|
||||
Uji koefisien determinasi
Pengujian ini
dilakukan untuk menentukan besarnya pengaruh variabel X terhadap variabel Y.
Hasil R square menunjukkan 0,126, sehingga 0,126 X 100% = 12,6%. Hal
tersebutmenunjukkanbahwavariabel X (luas lantai, jenis lantai, jumlah pohon dan
keterbukaan) mempunyaipengaruhterhadapvariabel Y sebesar 12,9%.
Sedangkansisanyamerupakanvariabel yang tidakditelitidanmempengaruhivariabel Y.
Tabel 1.6 Uji Persamaan Regresi
|
Coefficientsa
|
||||||
|
Model
|
Unstandardized
Coefficients
|
Standardized
Coefficients
|
T
|
Sig.
|
||
|
B
|
Std.
Error
|
Beta
|
||||
|
1
|
(Constant)
|
9,340
|
7,505
|
|
1,245
|
,234
|
|
Luas
|
-,002
|
,008
|
-,077
|
-,280
|
,783
|
|
|
Lantai
|
-1,648
|
2,344
|
-,185
|
-,703
|
,494
|
|
|
Pohon
|
,625
|
,702
|
,230
|
,890
|
,389
|
|
|
Keterbukaan
|
2,223
|
2,024
|
,290
|
1,098
|
,291
|
|
|
a. Dependent Variable: Evaporasi
|
||||||
Uji persamaan regresi
Persamaan regresi
dapat digunakan untuk melakukan prediksi atau ramalan bagaimana individu dalam variabel
kriterium akan terjadi bila individu dalam variabel predikator ditetapkan.Ῠ =
9,340- 0,002X1– 1,648X2+ 0,625 X3 + 2,223 X4
Jika tidak terdapat
kenaikan antara skor luas lantai (X1), jenis lantai (X2),
jumlah pohon (X3) dan keterbukaan (X4) menunjukkan konstanta
sebesar9,340. Koefisien regresi yang dihasilkan oleh X1, X2, X3dan
X4menunjukkan adanya arah hubungan setiap variabel. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa variabel X1mempunyai arah hubungan yang negative, variabel X2mempunyai
arah hubungan yang negatif, variabel X3 menunjukkan arah hubungan
yang positif dan variabel X4 mempunyai arah hubungan yang positif.
Sehingga luas lantai akan turun dengan besar konstanta 0,002, jenis lantai akan
turun dengan besar konstanta1,648 , jenis lantai akan naik dengan besar konstanta
0,625 dan keterbukaan akan naik dengan besar konstanta2,223. Sehingga semakin
luas lantai hasil evaporasi akan sedikit, semakin jenis lantai menggunakan
semen maka hasil evaporasi akan sedikit, semakin banyak pohon maka hasil
evaporasi semakin meningkat, dan semakin terbuka suatu tempat maka hasil
evaporasi akan semakin meningkat.
E.
PEMBAHASAN
Praktikum pengukuran evaporasi atau penguapan
pada acara II ini dilakukan di wilayah sekitar Universitas Negeri Malang yang
dibagi dalam 19 titik sebagai lokasi dilakukannya pengukuran penguapan. Pada
praktikum ini diharapkan mahasiswa mampu menganalisis sebaran tingkat evaporasi di sekitar wilayah
Universitas Negeri Malang, menganalisis perbedaan evaporasi air bersih dan air
tercemar, serta menganalisis hubungan kondisi lingkungan dengan tingkat
evaporasi yang ada.
Lokasi pengukuran evaporasi yang kami lakukan berada di Asrama PGSD
Universitas Negeri Malang, Waktu pengukuran dilakukan pada tanggal 11 Maret 2017 mulai pukul
06.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB. Tempat pengukuran dilakukan di halaman Asrama
PGSD Universitas Negeri Malang dengan luas wilayahnya 24 m². Keterbukaan wilayah
pengukuran termasuk dalam terbuka, karena tidak ada tembok di sekitar wilayah
pengukuran. Lantai atau alas dari pengukuran ini yaitu tanah dengan jumlah
pohon disekitarnya sebanyak 2 pohon.
Pengukuran penguapan dilakukan dengan cara mengambil 2 sampel air berbeda, satu
air bersih yang diambil dari asarama putra universitas negeri malang dan satu
sampel berupa air tercemar yang diambil dari trapesium
UM.
Hasil
dari pengujian sampel didapatkan hasil bahwa air yang menguap pada sampel air
bersih sebanyak 6,5ml
dari 600ml, sedangkan pada sampel air tercemar sebanyak 4,3ml dari 600ml. Dapat
disimpulkan dari haril pengujian bahwa sampel air bersih lebih cepat menguap
dari pada sampel air tercemar.
Hubungan antara kondisi
lingkungan terhadap tingkat evaporasi tersebut tidak sesuai dengan teori yang
ada. Hasil dari tabel tersebut
menunjukkan bahwa
1.
Luas wilayah pada saat pengujian tingkat
evaporasi air bersih tersebut dapat dikatakan berbanding lurus, sedangkan pada
tingkat evaporasi air tercemar dapat dikatakan tidak ada pengaruh sama sekali.
2.
Pada tabel hubungan antara kondisi lantai
terhadap tingkat evaporasi, dapat dilihat bahwasannya teori pemantulan cahaya
oleh lantai tidak begitu berpengaruh terhadap tingkat evaporasi. Karena lantai
aspal/semen yang seharusnya dapat memantulkan cahaya secara penuh tidak
berpengaruh terhadap tingkat evaporasi. Sedangkan lantai paving memiliki
pengaruh yang lebih besar dalam pemantulan cahaya.
Pada tabel selanjutnya
menjelaskan bahwa jumlah pohon yang ada disekitar tempat terjadinya evaporasi
air bersih berbanding lurus dengan besar kecilnya tingkat evaporasi. Sedangkan
jumlah pohon yang ada disekitar tempat terjadinya evaporasi air tercemar hanya
mempengaruhi tingkat evaporasi secara tidak penuh.
3.
Kondisi keterbukaan lingkungan dinilai tidak
berpengaruh secara maksimal terhadap tingkat evaporasi air bersih. Sebaliknya,
pada tingkat evaporasi air tercemar kondisi keterbukaan lingkungan berpengaruh
secara maksimal.
Dari
hasil diatas menunjukkan bahwa luas wilayah, kondisi lantai, jumlah pohon,
serta keterbukaan lingkungan tidak berpengaruh secara penuh terhadap tingkat
evaporasi dua sampel air yang ada. Kami berpendapat bahwa mungkin terdapat
faktor – faktor lain yang mempengaruhi tingkat evaporasi sampel air tersebut seperti
arah datangnya cahaya, kecepatan angin, kelembapan udara, itensitas penyinaran
matahari, serta tinggi rendahnya tekanan udara dilingkungan terjadinya
evaporasi.
Setelah
membuat tabel klasifikasi, kami melakukan uji regresi terhadap data yang ada
dengan hipotesis serta kriteria pengujian sebagai berikut:
1. Hipotesis
Evaporasi Air Bersih
a. H0
= Tidak ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air
bersih.
b. H1
= Ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air bersih.
2. Hipotesis
Evaporasi Air Tercemar
a. H0
= Tidak ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air
tercemar.
b. H1
= Ada pengaruh antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air tercemar.
3. Kriteria
Perhitungan
Sig ≥ 0,05 H0
diterima, artinya tidak
ada hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi air bersih dan
air tercemar.
Sig ≤ 0,05 H0
ditolak, artinya ada hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingkat
evaporasi air bersih dan air tercemar.
.Berdasarkan hasil perhitungan regresi diatas diketahui
bahwa nilai F dari regresi air bersih adalah 0,503 yang berarti H0
diterima karena nilai F ≥ 0,05. Sedangkan
nilai F dari regresi air tercemar adalah 0,307 yang berarti H0
diterima karena nilai F ≥ 0,05. Dari kriteria pengujian regresi berdasarkan
signifikan terhadap air bersih dan air tercemar dapat disimpulkan bahwa tidak
ada hubungan antara kondisi lingkungan dengan tingkat evaporasi karena Sig pada
air bersih dan air tercemar ≥ 0,05.
Selain itu berdasarkan tabel
Model Summary bagian R Square menunjukkan bahwa pada uji Regresi Pengaruh
Kondisi Lingkungan terhadap tingkat Evaporasi Air Bersih, kondisi lingkungan
hanya berpengaruh sebesar 12,6% dan sisanya dipengaruhi oleh faktor – faktor
yang lain.
Sedangkan berdasarkan tabel Model Summary bagian R
Square menunjukkan bahwa pada uji Regresi Pengaruh Kondisi Lingkungan terhadap
tingkat Evaporasi Air Tercemar, kondisi lingkungan hanya berpengaruh sebesar 8,1%
dan sisanya dipengaruhi oleh faktor – faktor yang lain.
4. KESIMPULAN
1.
Dari
hasil pengujian sampel air bersih dan air tercemar dapat disimpulkan bahwa
kondisi tidak mempengaruhi pada proses evaporasi.
2.
Terdapat
faktor lain yang mempengaruhi proses evaporasi pada pengujian sampel, khususnya
sampel air tercemar yang seharusnya banyak mengandung ion, akan tetapi pada
sampel air tercemar mengandung kation.
3.
Faktor
yang mempengaruhi antara lain: penyinaran matahari, angin, keterbukaan,
vegetasi, aktivitas manusia dan lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Suharyono. Y.A. 2011. EVAPORASI, (Online), (e-journal.uajy.ac.id/1764/3/2TS12808.pdf),
diakses 19 Maret 2017.
Utaya,S. 2013. PENGANTAR HIDROLOGI. Malang:
Aditya Media Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar